TANDA-TANDA PERSALINAN

TANDA-TANDA AWAL PERSALINAN
Bagaimana Mengenali Gejala-Gejala Persalinan

Inilah masa-masa yang paling mengkhawatirkan selama kehamilan seorang wanita. Melahirkan dapat menjadi hal yang sangat menyakitkan, dan juga membutuhkan banyak waktu. Bagi beberapa wanita, proses melahirkan hanya membutuhkan beberapa jam saja, sedangkan pada beberapa wanita lain bisa menghabiskan waktu lebih dari 24 jam. Dibawah ini anda akan menemukan hal-hal apa saja yang perlu diketahui. Berikut ini adalah tanda-tanda dan gejala-gejala awal persalinan. Bersiaplah, sebentar lagi anda akan melahirkan dan akan memiliki seorang anak! Tanda-Tanda Awal Persalinan – Apakah Persalinan Sudah Dekat? Banyak wanita mulai merasakan tanda-tanda dan gejala-gejala persalinan sehari bahkan seminggu sebelum sang bayi benar-benar lahir. Tanda-tanda ini memberitahukan anda bahwa persalinan sudah dekat, dan membantu tubuh anda untuk menyiapkan diri. Jika anda adalah seorang calon ibu untuk yang pertama kalinya, tanda-tanda awal persalinan dapat terjadi beberapa minggu sebelum persalinan yang sesungguhnya. Sedangkan untuk kehamilan berikutnya, tanda-tanda ini mungkin akan dirasakan ketika sudah mendekati persalinan. Berikut ini adalah beberapa tanda bahwa persalinan sudah dekat: Engagement atau Turunnya Bayi ke Panggul

Ketika persalinan sudah mendekati, kepala bayi anda sudah mulai turun ke area tulang panggul (pelvic inlet). Kejadian ini merupakan akibat dari melunaknya uterus anda. Engagement atau turunnya kepala bayi membuat anda bisa bernafas lebih lega. Heartburn yang pernah anda alami juga mulai berhenti. Turunnya bayi anda dapat terjadi kapan saja sejak dua hingga empat minggu sebelum bayi anda benar-benar lahir. Jika anda telah merasakan tanda-tanda awal persalinan ini, maka anda dapat meyakinkan diri bahwa proses memiliki seorang bayi sedang dimulai. Kehamilan anda akan segera memasuki tahap akhir, dan tanda awal persalinan yang tengah anda rasakan adalah benar.

Tekanan Panggul (Pelvic)

Setelah bayi anda turun dengan kepala berada di dalam panggul, anda mungkin akan merasa kurang nyaman. Sakit yang anda rasakan ini merupakan akibat dari adanya tekanan panggul, dan anda akan lebih sering berkemih serta lebih sering buang air besar karena meningkatnya aktivitas usus. Ini merupakan salah satu tanda persalinan yang jelas. Adanya relaksasi tulang sendi beserta ikatan-ikatannya, dapat menyebabkan nyeri di punggung belakang. Hal ini juga dapat menyebabkan nyeri tiba-tiba karena bayi anda menekan dasar panggul anda. S elain itu, kaki anda mungkin membengkak sebagai akibat meningkatnya tekanan terhadap pembuluh darah yang melewati panggul. Berbaring ke kiri, dapat membantu anda meringankan tanda-tanda awal persalinan ini.

Vaginal Discharge / Keputihan Jangan kaget jika vagina anda lebih banyak mengeluarkan cairan, yang biasa disebut keputihan. Hal ini merupakan akibat dari melunaknya rahim anda. Cairan dapat berwarna putih, dan kadang berwarna merah muda. Ini adalah salah satu dari tanda awal persalinan yang tidak nyaman bagi anda. Keputihan yang berwarna kuning atau berbusa, bisa merupakan tanda terjadinya infeksi. Jika cairan mengalami perubahan warna, beritahukanlah dokter anda. Naluri ‘Bersarang’ (Nesting Instinct)

Selain tanda-tanda fisik, anda dapat juga merasakan suatu naluri, yang biasa disebut naluri ‘bersarang’ (nesting instinct). Ini merupakan tanda emosional seb aga i tanda awal persalinan, yang biasanya ditandai dengan kegiatan membereskan lemari, membersihkan kamar mandi, mengepel lantai, dan kegiatan-kegiatan membersihkan lainnya. Naluri keibuan ini bisa merupakan suatu pertanda bahwa sebentar lagi anda akan memiliki seorang bayi. Ketika anda melakukan pekerjaan yang cukup menguras energi ini, janganlah mengerjakannya dengan terlalu berlebihan. Meskipun hal ini cukup penting untuk menyambut kehadiran buah hati anda, akan tetapi anda harus menyimpan energi anda, mengingat tanda awal persalinan ini masih akan diikuti dengan tanda-tanda persalinan lainnya.

Kontraksi Braxton Hicks

Tanda dan gejala awal persalinan ini diberi nama berdasarkan nama dokter yang pertama kali mengenali tanda-tanda ini. Kontraksi Braxton Hicks, memang benar-benar merupakan sebuah kontraksi, meskipun semu. Kontraksi ini dirancang untuk menyiapkan tubuh anda untuk melahirkan sang bayi.

Pada kebanyakan kasus, kontraksi semu berjalan tidak teratur, durasi biasanya pendek (kurang dari 45 detik). Nyeri dari kontraksi dapat terasa di berb aga i bagian tubuh seperti di lipat paha (selangkangan) dan perut bagian bawah atau punggung. S edangkan pada kontraksi sebenarnya, kontraksi rahim menimbulkan nyeri yang berawal pada bagian atas rahim dan menyebar ke seluruh rahim, lewat pinggang terus panggul. Kontraksi Braxton Hicks meregangkan bagian bawah rahim anda, yang memungkinkan kepala bayi anda berada di tulang panggul. Anda boleh mengganggap hal ini seb aga i tanda-tanda bahwa kelahiran sudah semakin dekat, ketika kontraksi Braxton Hicks semakin intensif, dan menyebabkan abdomen anda semakin menegang. Biasanya ketidaknyamanan ini akan berkurang jika anda berbaring. Mengigil

Tanda awal persalinan lainnya adalah menggigil tanpa sebab yang jelas. Hal ini dapat terjadi tanpa adanya perasaan dingin atau karena anda lemah, dan dapat terjadi akibat hormon stres atau adanya perubahan kadar hormon progesteron dalam tubuh anda. Menggigil merupakan salah satu tanda awal kelahiran bayi anda.

Diare Suatu gejala dan tanda awal persalinan yang tidak menyenangkan adalah diare. Pelepasan suatu unsur kimia dalam tubuh yang disebut dengan prostaglandins dapat terjadi dalam proses awal suatu persalinan. Pemicu ini dapat mengakibatkan meningkatnya aktivitas usus (loose bowel movement). Dibawah ini adalah tanda dan gejala persalinan akan segera terjadi, dan anda harus segera bersiap-siap ke rumah sakit. TANDA AWAL PERSALINAN AKAN S EGERA TERJADI Penyebab pasti lahirnya seorang bayi sampai sekarang masih belum diketahui. Teori yang berkembang pada s aat ini menyatakan bahwa bayi dalam kandungan membantu memproduksi unsur-unsur tertentu yang kemudian berubah menjadi hormon-hormon kehamilan. Berikut ini adalah tiga tanda dan gejala utama yang khas terjadi dan dapat menunjukkan bahwa sebentar lagi anda akan melahirkan dan memiliki seorang bayi.

Penyumbatan Mucus atau Perdarahan Kelahiran akan dimulai dengan pelunakan leher rahim. Ketika hal ini terjadi, leher rahim mulai membesar, sejumlah mucus (lendir) menyumbat, menutupi leher rahim dan kehamilan anda akan segera berakhir. Cairan berwarna kemerahan atau kecoklatan mungkin saja akan muncul, dan hal ini disebut dengan perdarahan. Meskipun hal ini dapat disimpulkan bahwa sebuah kelahiran akan segera terjadi, akan tetapi perdarahan bisa terjadi pada beberapa minggu sebelum kelahiran yang sesungguhnya. Oleh karena itu, tanda-tanda ini tidak dapat dijadikan satu-satunya tanda dan gejala persalinan. Pecah Membran Juga dikenal sebagai “pecah ketuban”, terjadi ketika kantung amniotic pecah. Ini merupakan tanda awal persalinan yang paling umum terjadi. Jika ketuban telah pecah, maka anda dapat menduga bahwa persalinan akan terjadi dalam waktu 24 jam. Ketika ketuban pecah, biasanya kontraksi akan terjadi lebih intensif, dan bayi anda akan semakin dekat ke arah pelebaran rahim. Jika anda mengalami pecah ketuban di rumah, ingatlah kapan kejadian ini berlangsung, konsistensi dan jumlah cairan ketuban yang telah keluar. Cairan ketuban pada umumnya berwarna bening dan tidak berbau, dan akan terus keluar sampai pada s aat anda melahirkan. Dokter akan meminta anda untuk menj aga vagina bebas dari benda-benda asing untuk menj aga resiko terjadinya infeksi. Pecah ketuban adalah salah satu tanda persalinan yang paling umum terjadi. Kontraksi Regular Salah satu tanda umum yang paling sering terjadi dan salah satu cara untuk mengetahui bahwa persalinan akan segera terjadi adalah konsistensi kontraksi. Leher rahim yang telah melunak akan semakin melebar dan akan terus berlanjut hingga proses persalinan selesai. Hal ini merupakan sebuah tanda persalinan yang nyata, dan berarti bayi anda akan segera lahir. Kontraksi akan terjadi lebih teratur, intensitas dan lamanya kontraksi juga akan berlangsung lebih lama. Kontraksi mengawali sebuah proses yang mendorong bayi anda keluar secara perlahan-lahan melalui uterus bawah, sehingga kelahiran menjadi semakin dekat. Kontraksi ini, bersama tanda-tanda lainnya, merupakan tanda-tanda persalinan yang jelas, dan sebentar lagi anda akan memiliki seorang bayi! (im) Sumber: Early Signs of Labor- How to Recognize Labor Symptoms. Brian Gardner.

Ditulis dalam Tak terkategori. Kaitkata: . Tinggalkan sebuah Komentar »

KIAT TIDAK LUPA

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Meski telah memiliki telepon genggam dan komputer jinjing yang siap membantu menyimpan data-data berupa angka, tak ada salahnya kita mengingat dan menyimpan sebagain dalam memori otak. Selain mendongkrak daya ingat, kita sedikit direpotkan bila sewaktu-waktu piranti andalan, baik ponsel atau laptop, rusak maupun hilang.

Mengingat angka juga menekan risiko pikun pada angka atau “Amnesia Numerik”. Metodenya pun tak harus rumit. Berikut ada lima tips sederhana namun efektif yang diberikan oleh sebuah lembaga studi medis perusahaan penunjang hidup, CCP.

Langkah 1: Visualisasikan angka-angka yang ingin anda ingat, gambar angka tersebut dalam kepala. Pikirkan seperti apa mereka akan terlihat, warna yang tampil, bentuk yang mungkin muncul di ‘kartu nama’ tulisan tangan anda. Cara ini mungkin akan berbeda bagi setiap orang, bagi mereka yang memiliki kemampuan imajinasi tinggi jauh lebih mudah melakukan. Namun bagi mereka yang kurang, metode ini justru mengembangkan pula kemampuan inferior selama ini.

Langkah 2: Ucapkan angka keras-keras. Metode ini terutama cocok bagi mereka yang bertipe pembelajar berdasar respon suara. Ucapkan angka-angka itu tiga kali langungs berturut-turut. Bila perlu ulangi lagi menyerukan dengan keras setiap beberapa menit. Bahkan menciptakan sikuen ritme angka dalam lagu-lagu yang anda kenal juga sangat membantu.

Langkah 3: Lakukan gerakan memencet nomor. Gerakkan jari-jari anda seolah-olah seperti menekan tombol betulan dalam ponsel ketika anda meneriakkan angka itu keras-keras.

Langkah 4: Kelompokkan angka bersama. Pikiran manusia secara alami lebih baik mengingat angka-angka dalam grup terdiri dari tiga atau empat.

Langkah 5: Cari asosiasi pribadi dengan angka. Asosiasikan angka dengan ulang tahun misal, umur, nomor pin atau hal-hal lain yang pribadi bagi anda. Otak anda akan memunculkan angka-angka tersebut begitu asosiasi itu terpikirkan.i

Pada intinya upaya mengingat yang dipaparkan datas dilakukan dengan memanfaatkan indra manusia. Pengaktifkan indra terbukti membantu meningkatkan kemampuan kognitif seseorang.
Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

NOMOR

ILUSTRASI

Ditulis dalam Tak terkategori. Kaitkata: . Tinggalkan sebuah Komentar »

KEMATIAN TRAGIS LIBERALIS

Menyikapi Kematian Nasr Abu Zaid, Guru Besar ‘Islam Liberal’
Pemikir kontroversial Mesir dan profesor Studi Arab Nasr Hamid Abu Zaid Senin pagi kemarin (5/7) meninggal di sebuah rumah sakit Kairo akibat serangan virus yang dijelaskan oleh para dokter sebagai penyakit yang “jarang dan langka.”
Pada tahun 1993, ia divonis murtad oleh para ulama Islam khususnya Al-Azhar dan menikah dengan Yunis yang secara resmi pernikahannya itu dibatalkan oleh pengadilan keluarga Mesir dengan alasan bahwa seorang wanita Muslim tidak bisa menikah dengan orang yang sesat dan murtad.
Di antara karya Abu Zaid yang dianggap terbaik oleh kalangan pemujanya berjudul “The Founding of Medieval Ideology and A Critique of Religious Discourse” (Pendirian Ideologi Abad Pertengahan dan Kritik Wacana Keagamaan.)
Nasr Abu Zaid sangat dikagumi oleh kelompok JIL Indonesia, pemikiran-pemikiran sesatnya dianggap progresif bagi kalangan sealiran dengan Ulil Abshar Abdallah cs.
Bagaimana Syariat memberi tuntunan kepada kita  dalam menyikapi kematian orang seperti Nasr Abu zaid?
Seorang muslim yang baik akan bersedih dengan wafatnya para ulama dan dai Islam, sebaliknya dia akan bergembira dengan kebinasaan ahli bid’ah dan kesesatan, terutama jika mereka merupakan para tokoh, simbol kebesaran bagi para penyerunya. Dia bergembira karena matinya akan mematahkan pena-pena mereka, dan lenyap pemikiran mereka yang menimbulkan syubhat bagi manusia terutama orang awam.
Para salafus shalih tidak hanya memperingatkan kita akan bahaya mereka ketika masih hidup saja, lalu ketika mereka mati maka mereka dikasihani dan ditangisi kepergiannya. Bahkan dahulu para salafus shalih juga menjelaskan keadaan para ahli bid’ah tersebut sesudah matinya, dan menampakkan kegembiraan dengan matinya mereka, juga sebagian mereka memberi ucapan selamat kepada yang lain.
Dalam sebuah hadits shahih yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari, dari hadits Abu Qatadah bin Rib’i Al-Anshari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
“Seorang hamba yang mukmin beristirahat dari keletihan dunia dan kesusahannya, kembali kepada rahmat Allah. Sedangkan hamba yang jahat, para hamba, negeri, pohon dan binatang beristirahat (merasa aman dan tenang) darinya.” (HR. Bukhari np. 6031, Muslim no. 950, Ahmad no. 21531)
Maka bagaimana seorang muslim yang baik tidak gembira dengan kematian orang yang mengganggu dan merusak para manusia dan negeri? Oleh karena itu ketika sampai berita Al-Marisi yang sesat ketika itu Busyr bin Harits sedang di pasar dia berkata: “Kalau bukan tempat kemasyhuran tentunya itu tempat untuk bersyukur dan sujud, Alhamdulillah yang telah mematikannya.” (Tarikh Baghdad: 7/66) dan ( Lisanul Mizan: 2/308).
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya: “Seseorang bergembira dengan apa yang menimpa para sahabat Ibnu Abi Du’ad, apakah dia berdosa?” Beliau menjawab: “Siapa yang tidak senang dengan berita ini?” (Asunnah karangan Khalal: 5/121)
Salamah bin Syabib berkata: “Ketika itu saya bersama Abdur Razzaq – yakni Ashan’ani -, lalu datanglah berita kematian Abdul Majid, maka beliau berkata: (Alhamdulillah yang telah mengistirahatkan umat Muhammad dari Abdul Majid) (Siyar A’lamun Nubala: 9/435).
Dan Abdul Majid ini adalah anaknya Abdul Aziz bin Abi Ruwad, dia adalah tokoh Murji’ah.
Dan ketika sampai berita kematian Wahab Al-Qurasyi – dia adalah tokoh sesat dan menyesatkan – kepada Abdur Rahman bin Mahdi beliau berkata: Alhamdulillah yang telah mengistirahatkan kaum muslimin darinya. ( Lisanul Mizan Ibnu Hajar: 8/402).
Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam (Al-Bidayah Wan Nihayah 12/338) tentang salah seorang tokoh ahli bid’ah: ( Allah telah mengistirahatkan kaum muslimin darinya di tahun ini dibulan Dzul Hijjah, dan dikubur dirumahnya, kemudian dipindahkan ke pemakaman Quraisy hanya milik Allah pujian dan karunia, dan ketika orang tersebut mati maka pengikut ahli sunah wal jama’ah sangat bergembira dengan kematiannya, dan mereka menampakkan kesyukuran kepada Allah, tidak dijumpai satupun dari mereka melainkan memuji Allah Ta’ala).
Demikianlah sikap para salafus shalih rahimahumullah ketika mendengar berita kematian salah satu tokoh ahli bid’ah dan kesesatan, kadang-kadang sebagian berhujah dengan yang dinukilkan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya (Madarijus Salikin: 2/345) tentang sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari musuhnya ketika beliau berkata: (suatu hari aku datangi beliau memberi kabar gembira kematian musuhnya yang terbesar, dan yang paling keras permusuhannya dan gangguannya kepada beliau, beliau menghardiku dan mengingkariku dan mengucapkan Innalillahi wainna ilaihi raji’un, kemudian beliau berdiri dan langsung menuju rumahnya dan memberi ta’ziyah kepada keluarganya dengan berkata: sesungguhnya aku  bagi kalian sebagai gantinya….) dan barang siapa yang merenungkannya akan menemukan tidak adanya pertentangan antara dua perkara tersebut , karena termasuk kebaikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beliau tidak membalas dendam untuk dirinya pribadi, oleh karena itu ketika muridnya mendatanginya menyampaikan kabar gembira kematian salah satu musuhnya bahkan yang paling memusuhi dan mengganggunya beliau menghardiknya dan mengingkarinya, karena murid  beliau hanyalah menampakkan kepada Syaikhnya kegembiraannya dengan kematian salah satu musuhnya bukan gembira atas kematiannya karena dia salah satu tokoh kebid’ahan dan kesesatan. (ar/voa-islam.com)

Ditulis dalam Tak terkategori. Kaitkata: . 1 Komentar »

haji ringkas

بسم الله الرحمن الرحيم
والصلاة والسلام على اشرف المرسلين وبعد

فهذه عجالة مختصرة ، ولمحة بسيطة ميسرة ، نضعها بين يديك أخي الحاج توضح بعض أحكام الحج و العمرة ، توخينا في كتابتها الاختصار و سهولة العبارة، ليسهل عليك فهمها والانتفاع بها ، لذا ندعوك لقراءتها بشئ من التأني لعل الله ينفعك بها ونرجو أن ينفعك وهو النافع المعين .

أخي الحاج :

الحج فرض مرة في العمر وما زاد عن ذلك فتطوع ، وهو قصد التوجه إلي مكة لأداء عبادة مخصوصة ذات إحرام وطواف وسعي ووقوف ، وهو ركن من أركان الإسلام .
ويجب على كل مسلم بالغ عاقل مستطيع قادر على الوصول إلي مكة ، والمرآة كالرجل، ويزداد في حقها وجود محرم يصحبها في رحلتها ، وتكتفي الرفقة المأمونة إذا كان حجها فرضاً وإذا كانت المرأة في عدة وفاة لا يجوز لها السفر إلي الحج وإذا ذهبت صح حجها وأثمت ، ثم إذا توفرت لك أخي الحاج أسباب الاستطاعة ، ويسر لك الله الحج هذا العام فعليك تهيئ نفسك لهذه الرحلة الإيمانية ، وذلك بالتوبة إلي الله والإنابة إليه والإقلاع عن كل المعاصي والذنوب ورد المظالم إلي أصحابها ، و الحقوق إلي أربابها إن كانت مما ترد وهي بحوزتك ، والاعتذار إلي من آذيتهم بلسانك أو اعتديت عليهم بيدك أو اعنت غيرك على ذلك حتى يحلوك ويسامحوك وبالتالي لتكون في حل من جميع التبعات ، ثم عليك أن تتعلم بعض الأحكام التي لها ارتباط برحلتك والأعمال التي تؤديها فيها وان تتوخي المال الحلال لحجك ، وعمرتك فالله طيب لا يقبل إلا طيباً ، ثم اعلم أن للحج أركانا وواجبات وسننا ومستحبات .
فأركانه أربعة :-
الإحرام و السعي بين الصفا والمروة والوقوف بعرفة وطواف الإفاضة ، وإذا تركت أخي الحاج احد هذه الأركان بطل حجك ، وأما واجباته فكثيرة ، ولا يبطل الحج بتركها أو بترك بعضها ولكن يترتب عليك الهدي ، أن كان الترك لعذر شرعي وإذا كان الترك لغير عذر شرعي فقد ارتكبت إثما وعليك أيضا الهدي .

الإحرام :-

وهو ركن من أركان الحج والعمرة ، والمراد بالإحرام ، نية الحج أو العمرة أو هما معاً أخي الحاج إذا تقرر موعد رحلتك ونويت السفر اليوم أو الليلة مثلاً فعليك أن تهيئ نفسك للإحرام فتحلق شعر عانتك وإبطيك وتقليم أظفارك ، وتغتسل غسلاً كاملاً ، فإذا وصلت إلي المطار ، واستعد الحجاج لصعود الطائرة فتجرد من ملابسك كلها والبس لباس الإحرام ( الفوط ) وهو أيسر وأسهل عليك ، ثم إذا ركبت الطائرة متوجها بمشيئة الله إلي مكة وعندما يعلن قائد الطائرة عن قرب محاذاتك للميقات المكاني ( رابغ ) ولا يفصلك عنه إلا ثلث أو ربع الساعة مثلاً تصلي ركعتي الإحرام على مقعدك تؤمئ لسجودك أكثر من ركوعك إذا كان الوقت تجوز فيه الناقلة وأنت متوضئ وإلا تركت الصلاة وأحرمت ، أي نويت في قلبك الإحرام بالحج فقط أو بالعمرة وحدها أو بهما معاً ، يجوز لك أن تحرم قبل ركوبك إلي الطائرة بل لك أن تحرم من بيتك وأحرامك صحيح مع الكراهة ، وان كان الأولي الإحرام بالطائرة ، فالإحرام من البيت وان كان صحيحا مع الكراهية إلا انه ربما تترتب عليه بعض المضار فقد تتأخر الطائرة لسبب من الأسباب وتضطر للرجوع إلي البيت فكيف تفعل وقد أحرمت من ملابسك ، لذلك الأحسن أن يكون إحرامك بالطائرة .

أنواع الإحرام :-

الإحرام ثلاثة أنواع ، أن تختار ما يناسبك وتقدر على القيام بواجباته وان كان الأفضل عندنا الإفراد بمعني أن تحرم بحج فقط ، وهو صفة حجة النبي صلى الله عليه وسلم فتقول : نويت الحج أو لبيك حجاً ، وهذا النوع الثاني أن تحرم بالعمرة وحدها فتقول : لبيك عمرة أو تنوي في قلبك الإحرام بالعمرة ، وبعد إتمامها والتحلل منها تحرم مرة أخري بالحج يوم التروية كما يأتي ، وهذا النوع يعرف بالتمتع ويلزمك هدي والهدي ذبح شاة على الأقل فمن لم يقدر عليها صام عشرة أيام ثلاثة منها بمكة وسبعة بعد رجوعه إلي بلده وهذا لغير أهل مكة .
ويجوز لصاحب الهدي أن يأكل منه ويتصدق ، إذا كان لترك واجب أو هدي تمتع أو قران أو تطوع .
النوع الثالث أن تحرم بالعمرة و الحج معاً فتقول : لبيك عمرة وحجاً ويعرف هذا النوع بالقران وعليك هدي أيضا وبعد ذلك إحرامك بأحد هذه النسك الثلاثة تلبي ( لبيك اللهم لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد و النعمة لك والملك لا شريك لك ) ويكفي لمن يقدر عليها إن يقتصر على : لبيك اللهم لبيك ، وعليك أيها الحاج الكريم أن تنتبه فإذا كنت قد أحرمت بالحج فقط أو بالعمرة و الحج معاً فانك تبقي على إحرامك ممنوعاً من كل شئ إلي أن ترمي جمرة العقبة يوم النحر عندها تتحلل التحلل الأصغر وحل لك كل شئ إلا النساء ويكره الطيب ، أما إذا أحرمت بالعمرة وحدها فالأمر في منتهي البساطة فبعد إن تسعي بين الصفا والمروة لعمرتك تكون قد انتهيت من هذه العمرة فتحلق راسك أو تقصر و التقصير أفضل للرجال هنا ، أما النساء فيأخذن من نهاية شعرهن قدر الأنملة وحل لك كل شئ و المرأة في الإحرام كالرجل لكنها لا تتجرد من ملابسها بل لها أن تلبس ما تشاء بدون تبهرج ويحرم عليها تغطية وجهها وكفيها إلا إذا كانت مخشية الفتنة فيجب عليها حينئذ إن تغطيه والصبي الغير المميز يحرم عليه وليه قرب دخول مكة ويجرده من ملابسه ، أما إذا كان مميزاً فيحرم عند الميقات .

واجبات الإحرام :-

الواجب والفرض في غير باب الحج معناهما واحد فالواجب هو الفرض والفرض هو الواجب وفي باب الحج يختلف معناهما فالفرض هو ما يبطل الحج بتركه ولا يجبر بالهدي ، أما الواجب فيجب على الحاج أن يؤديه ويحرم عليه بغير تركه بغير عذر ولا يبطل الحج بتركه لكنه ينجبر بالدم أي بالهدى إلا واجب التجرد فمن لم يتجرد فعليه الفدية لا الهدي .
وواجبات الإحرام هي :-

أن تتجرد أيها الحاج من كل ما يحيط ببدنك أو ببعض أعضائك إلا البوط فلك أن تستعمله بشرط أن يكون لحفظ نقودك ثم تلبس الإزار لتستر نصفك الأسفل وتثبيته على وسطك بالثني لا برباط من فوقه ولا بتحليله وتلبس ثوباً أخر تلف به بطنك وكتفيك ثم نعلاً وهو ما يعرف عندنا ( بالشبشب ) .
الإحرام من الميقات المكاني فإذا سافرت جواً قاصداً مكة يكون إحرامك عند محاذاة رابغ أما إن كان سفرك عن طريق المدينة فتحرم من ذي الحليفة وهو ما يعرف في الحاضر ( ابيار على ) ويحرم على الحاج أن يتجاوز هذه المواقيت بدون إحرام وعليه الرجوع إليها أن أمكن وألا احرم بعدها وعليه الهدي .
الواجب الثالث من واجبات الإحرام التلبية ويجب أن تكون عقب الإحرام مباشرة كما قلنا و الفصل اليسير لا يضر فان تركها المحرم أصلاً أو فصل بينهما وبين الإحرام بفاصل طويل كيوم أو نصف يوم وجب عليه الهدي .
ويندب تكرارها مرة بعد مرة ويستحب للرجل أن يرفع بها صوته ويجددها عند الاستيقاظ من النوم وعقب الصلوات وعند النزول و الركوب وعند ملاقات الرفاق ، ويستمر على التلبية إلي أن يصلي الحاج الظهر والعصر يوم عرفة ، ومن احرم بالعمرة من الميقات فيلب إلي أن يدخل المسجد الحرام ثم يقطعها .

محظورات الإحرام :-

هناك أمور يحرم على المحرم فعلها بلا عذر وتجب فيها الفدية نبين بعضها باختصار :-
يحرم عليك أيها الحاج أن تلبس مخيطا أو محيطاً ببدنك أو بعضو من أعضائك كما بينا أولا كما يحرم عليك أن تغطي وجهك أو راسك ليلاً أو نهاراً ولا تلبس لباساً داخليا أو خارجيا إذا احتجت إليه فيجوز لك ذلك وعليك الفدية كذلك يحرم عليك أن تقلم أظفارك أو تقص شعرك أو تمس طيبا أو تلبس ساعة بيدك أو خاتما بإصبعك أو تلبس نظارة على عينيك إلا الطبية فيجوز استعمالها ولا شئ فيها وإذا فعلت بعض المحظورات بلا عذر شرعي حرم ذلك وترتبت عليك الفدية أيضا أما أن احتجت إلي لباس تقي به نفسك من البرد فلا إثم عليك ووجبت عليك فدية

أنواع الفدية :-

الفدية ثلاثة أنواع كما صرح بذلك القرآن الكريم حين قال
( ففدية من صيام أو صدقة أو نُسك ) فالفدية إذا واحدة من ثلاثة : أما الصيام ثلاثة أيام ، أو إطعام ستة مساكين ، أو ذبح شاة ولك أن تخرجها بمكة أو بعد رجوعك إلي بلدك .
دخول مكة :-
إذا وصلت أخي الحاج إلي مكة ونزلت الفندق وأخذت قسطا من الراحة وبعد أن تطمئن على أمتعتك عليك أن تستعد للطواف وتتطهر ثم تتوجه إلي المسجد فتدخله ويسيجب أن تقدم رجلك اليمني عند دخولك وتستعيذ بالله من الشيطان الرجيم ، وتثني على الله بما هو أهله وتصلي وتسلم على نبينا
صلى الله عليه وسلم فإذا شاهدت الكعبة المشرفة رفعت يديك ودعوت بما أحببت ثم تتقدم نحو الكعبة خاشع القلب باكي العين قائلاً : نجيبك على هذا السؤال فتقول لك :-
إذا أحرمت بالحج فقط أو بالعمرة والحج معاً فتنوي بهذا الطواف طواف القدوم وهو واجب وان كنت أحرمت بالعمرة وحدها فتنوي بهذا الطواف طواف العمرة وهو ركن من أركانها الثلاثة وهي الإحرام والطواف والسعي وليس عليك طواف قدوم في هذه الحالة .

أنواع الطواف :-

الطواف ثلاثة أنواع :-
النوع الأول …..
طواف القدوم وهو واجب على كل احرم من الحل مفرداً أو قارناً ومن تركه عمداً إثم وعليه هدي .

النوع الثاني …..
طواف الإفاضة وهو ركن من أركان الحج الأربعة ويبدأ وقته من طلوع فجر يوم النحر ويستمر إلي نهاية شهر ذي الحجة ولا شئ عليه فان أخره حتى دخل شهر المحرم فطوافه صحيح ويلزمه هدي .

النوع الثالث …..
طواف الوداع وهو أخر شئ يفعله الحاج ليودع به البيت وحكمه السنية ويعيده الحاج أن تأخر سفره يوماً أو بعض يوم وصفة الطواف بأنواع الثلاثة واحدة .
كيف تطمئن على صحة طوافك ؟
إذا أردت أخي الحاج أن يكون طوافك صحيحاً فعليك أن تحافظ على شروطه وهي :-
أن يكون سبعة أشواط كاملة فمن شك هل طاف ستاً أو سبعاً مثلاً فانه يبيني على الأقل .
طهارة الحدث و الخبث فالطواف كالصلاة كما اخبر بذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم حيث قال : الطواف مثل الصلاة إلا أنكم تتكلمون فيه فمن تكلم فلا يتكلم إلا بخير ” رواه الترمذي ” لذلك فان من انتقض وضؤوه أثناء طوافه يقطع الطواف ويتوضأ ثم يعيد طوافه من أوله .
ستر العورة .
الطواف داخل المسجد ويسحب للرجل إن يقترب من الكعبة حال طوافه إن أمكنه ذلك .
جعل البيت عن يساره وقت طوافه فلو خالف بطل طوافه .
خروج كل البدن عند الطواف عن الشاذروان وعن حجر إسماعيل لانهما من البيت .
الموالاة بين أشواط الطواف فمن فصل بينهما بفاصل طويل بطل طوافه واستأنفه من جديد أما الفصل اليسير بقدر ما يستريح أو يتناول سيئاً من الماء فلا يضر وإذا أقيمت الصلاة للإمام الراتب وأنت تطوف فعليك أن تقطع طوافك وتصلي الجماعة ولا تتنقل بعدها ولا تقطع لصلاة الجنازة وألا بطل طوافك .
واجبات الطواف :-

أولا … أن تبدأ طوافك من الحجر الأسود فإذا ابتدأت بعد الحجر فلا تحتسب هذا الشوط وعليك أن تأتي بسبعة أشواط كاملة وألا ترتب عليك الهدي .

ثانياً … المشي فيه للقادر أما العاجز فلا باس أن يطوف محمولاً ولا شئ عليه ومن طاف محمولاً وهو قادر على المشي فعليه أن يعيد طوافه ولا يفيده الهدي إلا إذا تباعد عن مكة ففي هذه الحالة يلزمه الهدي .

ثالثا …. صلاة ركعتين بعد الطواف متصلتين به يقرا فيهما
( الكافرون والإخلاص ) ندباً كما يندب أن تكون الركعتان خلف المقام أن خلا المكان وإلا ففي أي جهة أخري ومن طاف بعد الصبح يؤخر الركعتين إلي بعد طلوع الشمس كذلك من طاف العصر يندب له أن يؤخرهما إلي بعد المغرب .

أما تقبيل الحجر الأسود قبل الطواف وأثناءه وكذلك الرمل والاضطباع في الأشواط الثلاثة الأولي والدعاء أثناء الطواف فهذه كلها سنن ومستحبات وليست بواجبة .
السعي بين الصفا والمروة ….. وهو ركن من أركان الحج و العمرة فإذا طفت أخي الحاج وصليت الركعتين وشربت من زمزم وتضلعت منه توجه الآن إلي الصفا واصعد عليه مستقبلا الكعبة المشرفة مهللا مكبراً داعيا بما أحببت ثم أبدا سعيك من الصفا واختم بالمروة ولكن ماذا تنوي بسعيك هذا ؟ نجيبك على السؤال فنقول لك :- إذا كنت أحرمت بالحج فقط أو بالعمرة و الحج معاً فانو بهذا السعي ، السعي الركن لأنه قلنا قبل قليل السعي ركن من أركان الحج والعمرة يبطلان بتركه وإذا كنت أحرمت بالعمرة وحدها فانو به سعي العمرة لأنه الركن الثالث من أركانها الثلاثة وهي الإحرام والطواف والسعي ويجب إلا تنسي انك باق على إحرامك إذا كان هذا السعي الذي أديته هو للحج فقط أو العمرة و الحج معاً ومعني هذا انه يحرم عليك أن تفعل شيئاً من محظورات الإحرام اختياراً إلى أن ترمي جمرة العقبة يوم النحر .
أما إذا كان هذا السعي للعمرة فمعني هذا انك قد أنهيت وعليك تتحلل منها بحلق راسك و التقصير أفضل بالنسبة للرجال أما النساء فكما قلنا سابقاً يأخذن من أطراف شعورهن قدر الأنملة فقط ثم تلبس

أما واجبات السعي فهي:

المشي فيه للقادر ، وأن يكون بعد طواف واجب كالقدوم أو الإضافة ، وتقديمه على الوقوف بعرفة لمن وجب عليه طواف القدوم ومن سقط عنه طواف القدوم بسبب شرعي كالمراهق الذي ضاق عليه الوقت وكالحائض يجب في هذه الحالة تأخير السعي إلى طواف الإفاضة ، ثم اتصاله بالطواف ولا يضر الفصل اليسير،وهذه الواجبات لا يبطل السعي إذا تركتها أو بعضها أخي الحاج ولكن يترتب عليك هدي ويسّن في حق الرجل فقط الإسراع بين العمودين الأخضرين إن خلا المكان ، كذلك الدعاء بين أشواطه السبعة سنة ، ويندب الصعود على الصفا والمروة في الأشواط كلها وتستحب طهارة الحدث والخبث ، والشرب من زمزم قبل الخروج إلى السعي.

يوم التروية:

إذا دخل اليوم الثامن من ذي الحجة يحرم بالحج من كان أحرم أولاً بالعمرة ويستعد للإحرام بحلق شعر أبطيه وعانته ، وتقليم أظفاره والاغتسال للإحرام ثم يخلع ملابسه ويلبس لباس الإحرام ، ويصلي ركعتي الإحرام ويحرم بأن ينوي بقلبه الإحرام بالحج ، ويتجنب بعد هذا الإحرام كل محظورات الإحرام ( السابقة ) وله أن يحرم من محل إقامته أو من المسجد ويشرع في التلبية وفي هذا اليوم تعوّد كثير من الحجاج أن يذهبوا إلى منى إحياءً للسنة فيصلون بها الظهر والعصر والمُغرب والعشاء وصبح اليوم التاسع كل صلاة في وقتها مع تقصير الرباعية إلى ركعتين ، وبعد طلوع شمس اليوم التاسع يتوجهون إلى عرفات ، بيد أن هذا العمل قد ترتبت عليه متاعب جمة لبعضهم فهناك من فقد رفقته ، وهناك من اضطر للمبيت في الطريق ، لذلك نقول لمن لم يستطع الاعتماد على نفسه يستحسن له أن يذهب إلى عرفة كبقية الحجاج ولا شيء عليه في تركه المبيت بمنى.

يوم عرفة:
في هذا اليوم المبارك وبعد زوال الشمس تصلي أخي الحاج الظهر والعصر جمع تقديم وقصراً للسنة بأذان وإقامتين وتتوقف على التلبية ، ثم تستعد للوقوف ، وهو نوعان:
الأول: الوقوف الواجب من تركه عليه هدي إذا لم يكن له عذر ووقته من الظهر إلى الغروب.
النوع الثاني: الوقوف الركني وهو من أهم أركان الحج حيث قال الرسولصلى الله عليه وسلم (الحج عرفة) ، ووقته غروب شمس اليوم التاسع على فجر النحر ، فمن جاء بعد طلوع الفجر بطل حجه ، ويكفي الوقوف ولو لحظة بقدر الجلوس بين السجدتين ، وليس الوقوف مراداً بمداولة الظاهر ، بل المقصود أن يكون الحاج متواجداً بعرفة بعد الغروب سواء كان واقفاً أم جالساً وإن كان الوقوف أفضل ، أم مضطجعاً، بل ولو كان نائماً أو حتى ماراً بشرط أن يعلم أن هذه عرفة ونوى بالوقوف إقامة الركن ، وفي هذا اليوم المبارك يكثر الحاج من الدعاء والتضرع إلى الله والتهليل والتكبير وقراءة القرآن ليتعرض لنفحات الله.

الخروج من عرفة:

بعد التحقق من غروب الشمس تخرج أخي الحاج من عرفة متوجهاً بمشيئة الله إلى مزدلفة، وبعد الوصول إليها والتأكد منها تنزل بها والنزول بها واجب من تركه عمداً أثم وعليه الهدي ، وتصلي بها المغرب والعشاء جمع تأخير وتقصر العشاء ركعتين بآذان وإقامتين فإن تأخرت عن الوصول إلى مزدلفة ، وخفت خروج وقت الصلاة قبل وصولك إليها فلك أن تجمع وتقصر في المكان الذي أنت فيه ، وبعد الصلاة تأكل ما تسنى لك وتجمع حصيات جمرة العقبة ، أما المبيت بها فليس واجباً فمن شاء المبيت فله ذلك ومن شاء الذهاب إلى منى فله ذلك ولا حرج عليه إن شاء الله.

يوم النحر:

وهو يوم الحج الأكبر كما ورد عن رسول الله r (هذا يوم الحج الأكبر) ورواه البخاري وفي هذا اليوم ترمي أخي الحاج جمرة العقبة ، ويدخل وقت الرمي بطلوع فجر يوم النحر للغروب والأفضل أن يكون بعد طلوع الشمس مستقبلاً لها منى عن يمينك ومكة عن يسارك وهذا أمر مستحب فقط ويكفي أن ترمي كيف ما تيسر لك ، وبرمي هذه الجمرة تحللت أيها الحاج التحلل الأصغر فلك أن تفعل كل ما كان محظوراً عليك سوى النساء والطيب وتذبح هديك أن كان معك هدي ، ثم تحلق شعرك والسنة أن يكون الحلق بعد ذبح الهدي والحلق أفضل للرجال من التقصير هنا ، أما المرأة فيتعين في حقها التقصير فتجمع شعرها وتأخذ منه قدر الأنملة ، والحلق والتقصير واجب فمن تركه أصلاً أو أخره كثيراً ترتب عليه هدي، وحتي من لم يكن برأسه شعر فعليه أن يجري الموس على جلدة رأسه للإتيان بصورة العبادة ، وبعد الحلق يندب لك أخي الحاج أن تذهب إلى مكة لتطوف طواف الإفاضة ويندب أن يكون في لباس الإحرام ، ويندب أن يكون قبل خروج أيام منىِ إن تيسر وخلا المكان من الازدحام ، وبهذا الطواف تكون أيها الحاج قد تحللت الأكبر وحل لك كل شيء حتى النساء والطيب وقد انهيت حجك تقبله الله منك ، وهذا بالنسبة للمفرد والقارن أما المتمتع وهو من أحرم أولاً بعمرة ويوم التروية أحرم بالحج فلا يتحلل التحلل الأكبر إلا بعد السعي بين الصفا والمروة فلا تنس هذا أخي الحاج لأنه ركن.

أيام منى:

إذا تيسر لك طواف الإفاضة يوم العيد فعليك أن ترجع إلى منى لتبيت بها والمبيت بها واجب ليلة الحادي عشر وليلة الثاني عشر لمن تعجل ويزيد ليلة الثالث عشر لمن لم يتعجل ويقصد بالتعجل وعدمه أن المتعجل ينوي الرجوع إلى مكة ثالث يوم العيد ويسمي (النفر الأوّل) وغير المتعجل يرجع اليوم الرابع ، وفي هذه الأيام تقصّر صلاتك ، فتصلي الرباعية ركعتين للسنة ، ويسن في حقك أخي الحاج الإكثار من الذكر والتهليل والتكبير وقراءة القرآن أيام التشريق الثلاثة ، وهي الأيام التي تلي يوم النحر ، وتسمى المعدودات ولقد أشار القرآن الكريم إليها بقوله: ( واذكروا الله في أيام معدودات ) كذلك يسن لك أن تكبر الله عقب كل صلاة مكتوبة من ظهر يوم النحر إلي صبح اليوم الرابع وفي كل يوم من هذه الأيام ترمي الجمار الثلاث مرتبة الصغرى فالوسط فالكبرى وهي العقبة ويدخل وقت الرمي من الزوال إلي غروب الشمس وهذا الرمي واجب من تركه أو بعضه ترتب عليه هدي ويشترط أن يكون الرمي باليد وان يكون الحجر لا بطوب أو معدن مثلاً وان يكون قدر النواة و الصغير جداً لا يجوز الرمي به ويكره الرمي بالكبير لإيذائه كما يشترط أن ترمي الجمار مرتبة كما قلنا الصغرى أولاً و الوسطي ثانياً و العقبة ثالثاً وكل جمرة من هذه الجمار ترمي بسبع حصيات كل حصاة وحدها فمن رمي الحصيات السبع في دفعة واحدة احتسب منها واحدة فقط وأعاد الست بعدها وعليه أن يعيدها من الجمار لان التي رماها بواحدة ناقصة كأنها لم ترم أصلا و الترتيب واجب بين الجمرات كما قلنا .
ويسن للحاج أن يكون طاهراً وقت الرمي وان يقف للدعاء عقب رمي الصغرى والوسطي وان تكون الحصيات طاهرة ويكبر وقت الرمي مع تتابع الرمي وعدم كسر الحصيات .

مفسدات الحج والعمرة

يفسد إحرام الحاج و المعتمر بواحد من أمرين .
بالجماع الذي يوجب الغسل أو بخروج المني باللذة المعتادة بسبب قبلة أو مداعبة وضم ويفسد الحج الجماع وما في معناه إذا حصل قبل يوم النحر فعل المحرم شيئا من أعمال الحج أو لم يفعل أو وقع الجماع وما في معناه يوم النحر قبل رمي جمرة العقبة وطواف الإفاضة .
أما إذا حصل بعد يوم النحر ولو كان قبل الرمي والإفاضة أو حصل يوم النحر بعد الرمي أو بعد الإفاضة فلا يفسد الحج ويترتب علي صاحبه الهدي وتبطل العمرة بما ذكر إذا حصل قبل تمام سعيها فان حصل بعده فلا يفسد ويترتب عليه الهدي .

العمـــرة

العمرة سنة مؤكدة مرة في العمر وما زاد فمندوب ووقتها العام كله إلا وقت الإحرام بالحج وميقاتها الحج وهذا لمن أحرم من الميقات أما من كان بمكة سواءً من كان مقيم أو من القادمين إليها فلابد أن يكون إحرامهم من التنعيم ثم يعودون إلي البيت وليطوقوا طواف العمرة ويسعوا سعيها وأركانها الإحرام والطواف والسعي وتكره في العام الواحد أكثر من مرة لغير سبب.

زيارة المسجد النبوي وقبر الرسول صلى الله عليه وسلم بالمدينة المنورة

أخي الحاج بعد إتمام جميع مناسك حجك وعمرتك يندب لك أن تتوجه إلي زيارة المسجد النبوي وقبر رسول الله صلى الله عليه وسلم والمدينة المنورة لها في قلوب المسلمين مكانة عظيمة بها قبر أعظم رسول واشرف نبي ولقد اتفق المسلمون على أن البقعة التي تضم الجسد الشريف جسد اشرف خلق الله محمد صلى الله عليه وسلم أعظم البقاع فتوجه أخي الحاج بكل شوق ومحبة إلي زيارة رسول الله وزيارة مسجده للصلاة فيه و للتسليم عليه ففي الحديث الشريف أن رسول الله
صلى الله عليه وسلم قال ( ما من احد يسلم علّى إلا رد الله على روحي حتى أرد عليه السلام ) رواه أبو داوود ولتكثر وأنت في طريقك إلي مدينة رسول الله صلى الله عليه وسلم حاضرة الإسلام الأولي ومعقل الدعوة من الصلاة والسلام على الرسول محمد وإذا وصلت أليها يندب لك أن تتطهر و تتطيب وتلبس ملابسك وتستعد للزيارة فإذا دخلت المسجد فأبدا بالصلاة في الروضة الشريفة أن تيسر لك ذلك وإلا فاد التحية في أي مكان أخر قبل زيارة القبر الشريف إذا كان الوقت تجوز فيه النافله وإلا بدأت بزيارة القبر الشريف فستقبله وتقول : السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته ثم تقول : السلام عليك يا حبيب الله السلام عليك يا أكرم الخلق عند الله السلام عليك يا خاتم المرسلين السلام عليك وعلى آل بيتك وأزواجك وذريتك أجمعين اشهد أنك قد بلغت الرسالة وأديت الأمانة ونصحت الأمة وجاهدت في سبيل الله فجزاك الله عن أمتك خير الجزاء ثم تتحول إلي اليمين قدر ذراع وتقول : السلام عليك يا أبا بكر الصديق ورحمة الله وبركاته جزاك الله عن امة رسول الله خير الجزاء ثم تتحول إلي اليمين قدر ذراع وتقول : السلام عليك يا أبا حفص الفاروق ورحمة الله وبركاته جزاك الله عن امة محمد خير الجزاء ولتكثر أخي الحاج من زيارة القبر الشريف ما دمت بالمدينة ثم تزور مقبرة البقيع وبها ما يقرب من عشرة آلاف صحابي من أصحاب الحبيب تسلم عليهم وقت الدخول ثم تزور مسجد قباء وتصلي به ركعتين إقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم فقد كان
صلى الله عليه وسلم يزور مسجد قباء راكباً وماشياً فيصلي فيه الركعتين وقد قال : عليه الصلاة والسلام ( صلاة في مسجد قباء كعمرة ) السنن الكبرى ومسجد قباء أول مسجد بني في الإسلام وأول من وضع فيه حجراً رسول الله ثم أبو بكر ثم عمر عثمان وهو على مسافة ثلاثة كيلو مترات كما يستحب أن تزور قبور الشهداء بأحد وهو جبل قال عنه الرسول ( هذا جبل يحبنا ونحبه ( رواه مسلم .
وفيها تتذكر غزوة الخندق ودار أبي أيوب الأنصاري التي تشرفت بإيواء رسول الله عند قدومه إلي المدينة مشاهد وذكريات جسدت جهاد أعظم امة وجهاد أعظم رسول مشاهد وذكريات تحكي أمجاد امتنا وماضيها الحافل بالعطاء الزاخر بالانتصارات وليتأدب الحاج بآداب الزيارة الشرعية المنصوص عليها ثم ترجع أيها الحاج إلي بلدك ظافراً غانماً لتفتح صفحة جديدة في رحلتك المقبلة مع الحياة وقد عاهدت الله أن تسير في الطريق المستقيم ليكون حجك مبروراً والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى اله وأصحابه ومن حذي حذوهم وعلينا معهم أمين .

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ditulis dalam Tak terkategori. Kaitkata: . Tinggalkan sebuah Komentar »

السعي بين الصفا والمروة

السعي بين الصفا والمروة

(الصفا) في الأصل جمع صفاة ، وهي الحجر العريض الأملس ، والمراد به هنا مكان عال في أصل جبل أبي قبيس جنوب المسجد قريب من باب الصفا ، وهو شبيه بالمصلى طوله ستة أمتار، وعرضه ثلاثة ، وارتفاعه نحو مترين كذلك كان .
و (المروة) في الأصل واحد المرو ، وهي حجارة بيض ، والمراد هنا مكان مرتفع في أصل جبل قعيقعان في الشمال الشرقي للمسجد الحرام قرب باب السلام وهو شبيه بالمصلى ، وطوله أربعة أمتار، في عرض مترين ، وارتفاع مترين ، والطريق الذي بين الصفا والمروة هو (المسعى) مكان السعي ، والمسعى الآن داخل في المسجد الحرام نتيجة التوسعة السعودية سنة 1375 هـ .
والسعي بين الصفا والمروة ركن من أركان الحج عند غير أبي حنيفة والصحيح عند أحمد . وعدد مرات السعي المطلوبة سبع ، على أساس أن الذهاب من الصفا إلى المروة يعتبر مرة ، والعودة من المروة إلى الصفا يعتبر مرة ، وهكذا حتى تتم سبعة أشواط تبدأ بالصفا وتنتهي بالمروة . ومن لم يسع سعي الركن بطل حجه إن كان حاجا ، وعمرته إن كان معتمرا عند القائلين بأن السعي ركن ، وأما القائلون بوجوبه كأبي حنيفة والصحيح عند أحمد ، فإن تركه يجبر بدم وقد جاء حديثان يقول النبي صلى الله عليه وسلم في أحدهما : اسعوا فإن الله كتب عليكم السعي أخرجه الشافعي وأحمد والدارقطني
ويقول في الثاني : كتب عليكم السعي فاسعوا أخرجه أحمد والحديثان ضعيفان ولكن ثبت بالأدلة الصحيحة سعي النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه ومن بعدهم.. فالسعي وارد في الكتاب والسنة ، وعليه إجماع الأمة ، والخلاف في حكمه وليس في ثبوته .
قال الترمذي : اختلف أهل العلم فيمن لم يطف بين الصفا والمروة حتى رجع فقال البعض : إن لم يطف بينهما حتى خرج من مكة ، فإن ذكر وهو قريب منها رجع فطاف بينهما ، وإن لم يذكر حتى أتى بلاده أجزأه وعليه دم . وقال بعضهم : لا يجزئه لأن السعي بينهما ركن لا يجوز الحج إلا به .
شروط السعي بين الصفا والمروة

لكي يكون السعي صحيحا لا بد من توفر الشروط الآتية فيه :
(1) كونه بعد الطواف

فيشترط أن يأتي السعي بعد الطواف بالبيت ، ولو كان الطواف تطوعا ، فإذا لم يتقدمه طواف فإن هذا السعي لا يعتبر ولا يحسب في مناسك الحج ، ولا يكفي عن السعي الذي هو ركن أو واجب ، لأن السعي ليس عبادة مستقلة مثل الطواف إنما هو عبادة تابعة للطواف ، ولذا لا يستحب السعي وحده ولا يطلب ، إنما الذي يستحب الإكثار منه هو الطواف .
(2) البدء بالصفا والختم بالمروة

البدء عند السعي بالصفا والختم بالمروة شرط لصحة السعي عند الثلاثة وبعض الأحناف والمختار عند الأحناف أن ذلك واجب يجبر بدم .
قال الترمذي : والعمل على هذا عند أهل العلم أنه يبدأ بالصفا قبل المروة فإن بدأ بالعكس لم يجز .
(3) السعي في المسعى جميعه

والمراد من ذلك ألا يترك أي جزء من المسافة بين الصفا والمروة بغير سعي فيه ، فإن ترك جزءا ولو صغيرا بطل سعيه ، حتى لو كان راكبا اشترط أن تضع الدابة حافرها على الجبل ، ويجب على الماشي أن يلصق رجله بالجبل بحيث لا يبقي بينهما فرجة عند الشافعي . وقال غيره : لا يطلب إلصاق الرجل بجبل الصفا أو جبل المروة ، إنما المطلوب هو ما يعتبر إتماما عرفا .
(4) الموالاة في السعي

تشترط الموالاة في السعي بين الصفا والمروة ، من غير فصل كثير بين الشوط والذي بعده ، وذلك عند مالك ورواية عن أحمد فإن جلس خفيفا بين أشواطه للراحة فلا شيء فيه ولا بأس ، وإن طال الجلوس والفصل ، أو فعل ذلك عبثا ، فإن عليه أن يبتدئ السعي من الأول ، ولا يقطع السعي لإقامة صلاة بالمسجد إلا إن ضاق وقتها فيصليها ويبني ، ويجوز قطع السعي بسبب احتقان بالبول وغيره ، وقال الأحناف والشافعي والجمهور : الموالاة بين الأشواط في السعي سنة ، وهو ظاهر مذهب أحمد ، فلو وجد فصل بين الأشواط لا يضر ، قليلا كان أو كثيرا .
(هذا) ومعلوم أن السعي يكون في المسعى المخصص لذلك وإلا لم يجز ولم يصح .

Ditulis dalam Tak terkategori. Kaitkata: . Tinggalkan sebuah Komentar »

HAJI TAHUN 1430 H

MEKKAH– Ratusan ribu jemaah haji terus mengalir dari Mina menuju Masjidil Haram atau sebaliknya untuk menyelesaikan ritual ibadah haji mereka yang masih tersisa.

Sejak menjelang Jumat subuh, jemaah yang semula bermalam (mabid) di Muzdalifah sudah berdatangan di Mina untuk melontar jumrah.

Melontar jumrah adalah ritual rukun haji yang harus dikerjakan, jika tidak calhaj bersangkutan harus membayar dam atau denda berupa hewan kurban.

Biasanya waktu jumrah dimulai saat matahari tergelincir di tengah hari hingga tengah malam, namun untuk menghindari konsentrasi massa, sebagian jemaah memilih untuk melakukan ritual jumrah lebih awal.

Bagi yang mengikuti prosesi Nafar Awal, batu yang dilontar berjumlah 49, yakni tujuh batu dilontarkan di jamrah Aqabah pada hari pertama, Jumat 10 Zulhijah), kemudian disusul dengan lontaran tujuh batu masing-masing di ketiga jamrah (Ula, Wusta dan Aqabah) selama dua hari berturut-turut (7×3×2).

Sementara jemaah yang akan mengikuti Nafar Sani, melontar 70 batu Yakni tujuh batu pada hari pertama di jamrah Aqabah, kemudian melontar Ketiga jamrah (Ula, Wusta dan Aqabah) tiga hari berturut-turut (7×3×3).

Seusai melontar jamrah Aqabah di Mina pada Jumat pagi, jemaah langsung menuju Masjidil Haram, sebagian dengan berjalan kaki sepanjang enam kilometer untuk melakukan Tawaf (Mengitari Ka`bah tujuh kali) dan Sa`i (berjalan dan lari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah).

Sebagian jemaah memilih berjalan kaki, selain menilai ibadahnya lebih afdal, juga karena kota Mekah macet total, sehingga diperlukan berjam-jam dari Mina ke Masjidil Haram atau sebaliknya.

Sementara itu di Masjidil Haram pada hari Idhul Adha Jumat ini dipadati jemaah, baik mereka yang melakukan Tawaf dan Sa`i, beribadah biasa, shalat Idhul Adha maupun shalat Jumat.

Jemaah tampak memadati setiap sudut bangunan mesjid seluas 380.000M2 yang mampu menampung satu juta jemaah itu. Hanya sebagian jemaah yang bisa mencium Hajar Aswat.

Jemaah yang melakukan Tawaf harus bersusah payah menerobos kerumunan jemaah lainnya, baik yang sama-sama melakukan Tawaf maupun yang shalat di lintasan Tawaf di hamparan terbuka di seputar Ka`bah.

Untuk melakukan Tawaf di lingkar terluar Ka`bah pun cukup sulit, padahal petugas berseragam juga ikut mengatur gerakan jemaah, dan melarang mereka yang berlama-lama zikir atau berdoa karena menganggu gerakan mereka yang sedang melakukan Tawaf.

Kota Suci Mekah, Jumat, selain ditandai oleh kemacetan total arus kendaraan, juga diramaikan oleh banyaknya tenda-tenda yang didirikan oleh warga atau pendatang yang melontar jumrah, Tawaf atau Sa`i.

Kehadiran para pedagang kaki lima yang berkemah di ruas-ruas jalan di dalam kota juga ikut meramaikan suasana ibadah haji dan Idhul Adha.

Tukang pangkas rambut juga laku keras pada saat salah satu prosesi rukun haji yakni Umrah (Haji Kecil) yakni Tawaf dan Sa?i rampung, ditandai dengan mencukur rambut atau boleh melakukan apa-apa yang dilarang (Tahallul) saat melakukam niat ibadah haji(berihram).

Para tukang pangkas rambut amatir itu tampak hanya menggunakan silet untuk mencukur jenggot dengan imbalan RS10 (sekitar Rp25-ribu) di taman-taman atau uang terbuka.

Tukang ojek amatiran juga ikut menangguk rezeki dengan menarik imbalan SR 50 (sekitar Rp125-ribu) untuk menggonceng penumpang ke Masjidil Haram atau ke Mina dari Masjidil Haram.

Selain warga Arab dan sejumlah pemukim dari negara-negara tetangganya, tampak cukup banyak warga Indonesia terutama asal Madura yang berkemah di pinggir jalan di kawasan Aziziah.

Para mukimin asal Madura itu sebagian memanfaatkan momen Idhul Adha di tenda-tenda di pinggir jalan sekedar ajang reuni dengan sanak dan kerabat, namun sebagian lagi memanfaatkan untk mempreoleh hasil tambahan dengan berjualan makanan Indonesia seperti bakso, gado-gado, nasi rames dan berbagai barang keperluan rumah tangga lainnya.

Sampai berita ini diturunkan, arus jemaah haji yang berjalan kaki ke Masjidil Haram untuk Tawaf dan Sa?I setelah melontar jumrah atau sebaliknya dari Masjidil Haram ke Mina untuk melontar jumrah terus mengalir.

Udara di kota Mekah cukup kondusif, sekitar 29 derajat Celcius pada siang hari dan anjlog menajdi 29 derajat Celcius pada malam harinya.

Terdapat sekitar tiga juta jemaah haji dari berbagai penjuru dunia termasuk 208.000 jemaah Indonesia dalam musim haji 1430H ini.

Secara umum penyelenggaraan haji tahun ini cukup lancar dan mendapat pujian dari berbagai negara atas kemampuan pemerintah Arab Saudi menyelenggarakan even akbar ini. Ant/yto

Rukun-Rukun Puasa, Dasar Pokok Disyari’atkan Puasa Dan Kepada Siapa Puasa Itu Diwajibkan?

RUKUN-RUKUN PUASA, DASAR POKOK DISYARI’ATKANNYA PUASA DAN KEPADA SIAPA PUASA ITU DIWAJIBKAN ?

Oleh
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar

RUKUN-RUKUN PUASA
Rukun puasa itu ada empat, yaitu:
1. Niat
2. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa
3. Waktu dan
4. Orang yang berpuasa.

Berikut ini penjelasan secara rinci mengenai masing-masing rukun.

Rukun Pertama: Niat
Niat ini sudah harus ada pada malam sebelum berpuasa. Niat ini merupakan suatu keharusan dalam berpuasa. Juga wajib ditetapkan pada setiap ibadah dan amalan. Hal tersebut didasarkan pada firman Allah Ta’ala:

“Padahal mereka tidak diperintah melainkan agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat.” [Al-Bayyinah: 5]

Juga didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:

“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Dan sesungguhnya (balasan) bagi setiap amal (sesuai dengan) apa yang ia niatkan.”[1]

Rukun Kedua: Menahan Diri dari Hal-Hal yang Membatalkan Puasa
Orang yang berpuasa harus menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasanya, baik itu berupa makan, minum, hubungan badan, dan hal-hal lainnya yang dapat membatalkan puasa. [2]

Rukun Ketiga: Waktu
Orang yang berpuasa harus menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa itu semenjak terbit fajar shadiq (Shubuh) sampai matahari tenggelam. Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta’ala:

“Makan dan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” [Al-Baqarah: 187]

Rukun Keempat: Orang yang Berpuasa
Yaitu orang Muslim yang sudah baligh, berakal, mampu untuk mengerjakan puasa dan terlepas dari halangan puasa. [3]

DASAR POKOK DISYARI’ATKANNYA PUASA
Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam sekaligus sebagai salah satu kewajiban dari Allah Ta’ala (bagi hamba-Nya yang beriman). Puasa merupakan ibadah yang sudah populer diajarkan oleh agama dan telah menjadi kesepakatan di kalangan kaum muslimin, yang diwarisi oleh umat ini dari para pendahulunya. Puasa ini telah ditunjukkan oleh al-Kitab, as-Sunnah, ijma’ dan akal.

Dalil dari al-Qur-an adalah firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka jika di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya, dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kamu sekalian mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu sekalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya. Dan hendaklah kamu sekalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kelian agar kalian bersyukur”. [Al-Baqarah: 183-185]

Perintah di dalam firman-Nya:

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu sekalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa…”

Adalah untuk pengertian wajib, karena di dalamnya mengandung pensucian, pembersihan, dan penjernihan jiwa dari berbagai kotoran yang hina dan akhlak yang tercela.

Adapun dalil dari as-Sunnah adalah sebagai berikut:

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Islam itu dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan pergi haji ke Baitullah yang suci bagi orang yang mampu melakukan hal tersebut.” [4]

2. Hadits yang diriwayatkan oleh Thalhah bin Ubaidillah bahwasanya ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rambut yang acak-acakan, lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang shalat yang diwajibkan oleh Allah kepadaku.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Shalat lima waktu, kecuali jika engkau hendak mengerjakan suatu shalat tathawwu’ (sunnat).”
Lalu ia bertanya, “Beritahukan kepadaku puasa apa yang diwajibkan kepadaku.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Puasa Ramadhan.”
Ia kembali bertanya, “Apakah aku masih memiliki kewajiban puasa lainnya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Tidak, kecuali jika engkau hendak mengerjakan puasa tathawwu’ (sunnat).”
Selanjutnya, ia berkata, “Beritahukan kepadaku apa yang diwajibkan Allah kepadaku dari zakat?”
Lantas, ia (Thalhah) berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitahukan syari’at-syari’at Islam.” Maka, orang itu berkata, “Demi Rabb yang telah memuliakanmu, aku tidak akan menambah amalan apapun dan tidak juga mengurangi sedikit pun apa yang telah diwajibkan Allah kepadaku.”
Kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dia beruntung, jika dia benar.”
Atau,
“Dia akan masuk Surga jika dia benar.”[5]

3. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

‘Berpuasalah karena telah melihatnya (hilal, dalam menentukan tanggal 1 Ramadhan-ed.) dan berbukalah karena telah melihatnya pula (dalam menentukan 1 Syawwal-ed.)..’”[6]

4. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari hadits Jibril yang panjang ketika dia (Jibril) datang untuk mengajari manusia mengenai ajaran agama mereka…Dia berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Islam?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat wajib, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa Ramadhan…” [7]

Adapun dalil dari ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa puasa itu merupakan salah satu dari rukun-rukun Islam dan ia sudah diketahui secara umum sebagai ajaran agama. Bahkan, mereka sepakat bahwa orang yang mengingkari hukum wajibnya puasa maka dia telah kafir. [8]

Sedangkan dalil secara logika dapat dikatakan:
Pertama, bahwa puasa sebagai sebuah sarana untuk mensyukuri nikmat, karena puasa merupakan bentuk penahanan diri dari makan, minum, dan jima’ (hubungan badan). Puasa bulan Ramadhan mendatangkan nikmat paling besar yang dia dapat dengan menahan diri dari semua itu untuk batas waktu tertentu yang sudah diketahui batasannya. Ada beberapa jenis nikmat yang tidak diketahui dan hanya dapat diketahui apabila nikmat tersebut telah hilang. Lalu, agar nikmat tersebut tidak hilang, maka hak dari nikmat itu harus dipenuhi, yaitu melalui rasa syukur. Mensyukuri nikmat, berdasarkan logika dan syari’at merupakan suatu hal yang wajib. Dan hal tersebut telah diisyaratkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala melalui firman-Nya di dalam ayat puasa, “Agar kalian bersyukur.” [9]

Kedua, puasa merupakan sarana menuju takwa. Sebab, jika jiwanya telah tunduk untuk menahan diri dari hal-hal yang halal karena sangat menginginkan untuk mendapatkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta takut kepada adzab-Nya yang sangat pedih, maka akan lebih tepat lagi jika dia dapat menahan diri dari hal-hal yang haram. Puasa merupakan sarana untuk takut kepada hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan puasa merupakan hal yang wajib. Berdasarkan hal tersebut, telah ada isyarat yang terkandung di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhir ayat tentang puasa: “Agar kalian bertakwa.”[10]

Ketiga, di dalam puasa itu terkandung kekuatan untuk mengalahkan tabi’at dan mematahkan nafsu syahwat. Jika jiwa itu kenyang, maka ia akan berangan-angan, dan jika lapar maka dia akan menolak dari apa yang dia inginkan. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa di antara kalian yang takut tidak mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa itu akan menjadi tameng baginya.” [11]

Oleh karena itu, puasa itu seakan-akan sebagai satu-satunya cara untuk menahan diri dari kemaksiatan. Dan sesungguhnya puasa itu wajib. [12]

KEPADA SIAPA PUASA ITU DIWAJIBKAN?
Puasa Ramadhan itu diwajibkan atas setiap muslim yang berakal, mukim (tidak dalam keadaan safar), mampu, dan terlepas dari segala macam halangan.

Sedangkan bagi orang kafir, tidak wajib baginya mengerjakan puasa dan tidak juga sah untuk dikerjakan. Sebab, dia bukan orang yang berhak untuk ibadah ini, dan jika suatu saat dia memeluk Islam, maka dia pun wajib mengerjakannya, yaitu semenjak dirinya masuk agama Islam dan tidak perlu baginya mengqadha’ puasa-puasa yang telah ditinggalkannya. Yang demikian itu ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, ‘Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu…’” [Al-Anfaal: 38]

Bagi anak kecil, tidak wajib baginya untuk mengerjakan puasa, karena telah dibebaskan hukum itu darinya sehingga dia mencapai usia baligh. Usia balighnya itu bisa diketahui melalui salah satu dari tiga cara berikut:

1. Keluar mani melalui mimpi atau yang lainnya.
2. Tumbuhnya bulu kemaluan.
3. Masuk usia lima belas tahun.

Sedangkan pada wanita, ditambah lagi dengan haidh. Jika salah satu dari hal-hal tersebut di atas telah terpenuhi, maka anak itu sudah dapat dikategorikan baligh.

Dan bagi orang yang akalnya tidak sehat (hilang ingatan/gila), tidak wajib baginya menunaikan puasa, karena telah dibebaskan hukum wajib itu darinya. Jika ada seseorang yang terkadang ingatannya hilang dan terkadang kembali lagi, maka dia masih tetap berkewajiban melaksanakan puasa pada saat dia tersadar dan tidak ada kewajiban baginya untuk mengqadha’ puasa yang dia tinggalkan selama dia mengalami hilang ingatan.

Bagi musafir, puasa itu tidak wajib, tetapi dia diberikan pilihan, boleh tidak berpuasa dan boleh juga tetap berpuasa, tetapi yang lebih baik baginya adalah mengerjakan yang paling mudah.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…” [Al-Baqarah: 185]

Sedangkan bagi orang yang tidak mampu, yakni tidak mampu mengerjakan puasa, baik karena sakit atau karena sudah terlalu tua, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mengqadha’nya setelah bulan Ramadhan. Orang yang sudah tua hendaklah memberi makan satu orang miskin setiap harinya.

“….Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika ia tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin…” [Al-Baqarah: 184]

Dan bagi orang yang mengerjakan puasa tetapi terhalang oleh suatu halangan puasa, maka tidak wajib baginya berpuasa, tetapi dia harus berbuka, sebagaimana wanita yang haidh dan nifas. [13]

Ibnu Rusyd mengatakan, “…Adapun bagi orang yang mendapat ketetapan wajib mutlak, maka dia adalah orang yang sudah baligh, berakal, tidak sedang dalam perjalanan, dan sehat, selama tidak ada halangan yang menghalangi puasa, yaitu haidh bagi kaum perempuan. Ini merupakan suatu hal yang tidak diperdebatkan lagi.

Hal tersebut didasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini:

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia ber-puasa…” [14]

[Disalin dari buku Meraih Puasa Sempurna, Diterjemahkan dari kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerjemah Abdul Ghoffar EM, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
__________
Footnotes
[1]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (I/22) dan Shahiih Muslim (VI/48))
[2]. Penjelasan rinci mengenai hal ini akan diberikan lebih lanjut dalam pembahasan tentang hal-hal yang membatalkan puasa.
[3]. Penjelasan rinci mengenai masalah ini akan diberikan pada pembahasan tentang kepada siapa puasa itu diwajibkan.
[4]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (I/8) dan Shahiih Muslim (I/34))
(Sedangkan pada lafazh Muslim adalah:
“Islam itu dibangun atas lima perkara; bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, pergi haji ke Baitullah, dan puasa di bulan Ramadhan.”)-red.
[5]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/31) dari jilid I, dan Shahiih Muslim (I/31))
[6]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/24) dan Shahiih Muslim (III/122))
[7]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (I/20) dan Shahiih Muslim (I/30))
[8]. Lihat kitab Badaa-i’ush Shanaa-i (II/75), al-Majmuu (VI/248), Mughni al-Muhtaaj (I/420), al-Mughni (IV/324), serta Haasyiyatur Raudh al-Murabbi (III/344).
[9]. QS. Al-Baqarah: 185.
[10]. QS. Al-Baqarah: 183.
[11]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/24) dan Shahiih Muslim (IV/128))
[12]. Lihat Badaa-i’ush Shanaa-i’ (II/76).
[13]. Keterangan rinci mengenai hal ini akan diberikan pada pembahasan tentang orang yang boleh tidak berpuasa karena alasan-alasan yang dibenarkan untuk tidak berpuasa.
[14]. Lihat Bidaayatul Mujtahid (I/274), Badaa-i’ush Shanaa-i’ (II/77 dan III/176), Kasyful Qinaa’ (II/308) dan as-Sailul Jaraar oleh Imam asy-Syaukani (II/111).

Kemudahan Ajaran Islam Dalam Hal Puasa

Oleh
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar

Perbedaan antara hukum buatan manusia dengan hukum buatan Rabb mereka sama seperti perbedaan antara manusia dengan Rabb mereka.

Oleh karena itu, hukum buatan manusia yang diperuntukkan bagi manusia itu memiliki banyak kekurangan, bengkok, terkadang berlebihan, terkadang mengabaikan banyak hal, terkadang benar dan tidak jarang salah. Sedangkan hukum buatan Rabb Yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui datang dengan memenuhi segala kebutuhan manusia, memperbaiki kehidupan mereka, meluruskan kebengkokan yang ada pada diri mereka, dengan tetap memperhatikan kelemahan dan unsur kemanusiaannya serta berbagai keadaan yang mempengaruhinya.

Dari sini muncul kemudahan dan toleransi Islam di seluruh syari’at-Nya. Alhamdulillaah, syari’at yang diberikan kepada kita mengungguli seluruh syari’at agama samawi lainnya, di mana ia tidak membebani para penganut (syari’at Islam) dan yang bernaung padanya dengan hal-hal yang tidak mereka mampu. Dengan demikian, pondasi dasarnya adalah pemberian kemudahan dan keringanan serta peniadaan kesulitan.

Bagi orang yang mau menganalisa sumber syari’at ini, niscaya dia akan mendapatkan makna yang jelas dan terang. Dengan demikian, nash-nash dari al-Qur-an dan hadits-hadits Nabawi yang membahas makna ini terbagi menjadi lima bagian. [1]

Pertama: Dalil Tentang Peniadaan Kesulitan

Di antaranya firman Allah Ta’ala:

“Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, agar kalian bersyukur.” [ Al-Maa-idah: 6]

Dan firman-Nya:

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tua kalian, Ibrahim.” [Al-Hajj: 78]

Kedua: Dalil yang Menunjukkan Pemberian Kemudahan dan Keringanan

Di dalamnya tidak mengandung penentuan terhadap peniadaan kesulitan, seperti firman-Nya:

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” [Al-Baqarah: 185]

Dan juga firman-Nya:

“Allah hendak memberikan keringanan kepada kalian, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” [An-Nisaa : 28]

Ketiga: Penjelasan Mengenai Toleransi Agama Islam dan Kemudahan yang Diberikannya

Sesungguhnya Rasulullah j sangat pengasih dan penyayang kepada umatnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. “[At-Taubah: 128]

Keempat: Kekhawatiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk Memberatkan Umatnya

Sebagaimana sabda beliau j dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu :

“Kalau bukan aku takut memberatkan umatku, niscaya aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak…” [2]

Kelima: Para Sahabat Diperintahkan untuk Memberi Keringanan dan Dilarang Mempersulit

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

“Wahai Mu’adz, apakah Engkau ingin menebar fitnah? Bacalah: ‘Sabbihisma Rabbikal a’laa,’ ‘wal laili idzaa yaghsyaa,’ ‘Wadhdhuhaa.’” [3]

Allah Ta’ala berfirman:

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. ” [Al-Baqarah: 185]

Inilah kaidah besar dalam taklif aidah ini secara keseluruhan, di mana ia sangat mudah dan tidak ada kesulitan sama sekali padanya. Ia memberikan inspirasi kepada hati yang dirasa dengan sangat mudah dalam menjalani kehidupan ini secara keseluruhan, serta mewarnai jiwa orang muslim dengan karakter khusus yang penuh dengan toleransi yang tidak membebani dan tidak juga mengandung ketidaksempurnaan. Sebuah toleransi yang bersamanya semua taklif, kewajiban, dan semangat hidup mulia dijalankan. Seakan-akan ia merupakan aliran air yang mengalir dan pertumbuhan pohon yang tumbuh membesar dengan penuh ketenangan, kepercayaan diri, keridhaan, disertai rasa mendapat rahmat Allah Ta’ala yang terus-menerus dan kehendak-Nya adalah kemudahan, bukan kesulitan terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman.

[Disalin dari buku Meraih Puasa Sempurna, Diterjemahkan dari kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerjemah Abdul Ghoffar EM, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
__________
Footnotes
[1]. Ash-Shaum wal Ifthaar li Ash-haabil A’dzaar, Dr. Faihan al-Muthiri, hal. 21.
[2]. Diriwayatkan oleh Muslim. Lihat kitab Shahiih Muslim (I/151).
[3]. Diriwayatkan oleh Muslim. Lihat Shahiih Muslim (II/42)

Salam

Alhamdulillah

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.